Cerita Dewasa Liarnya Si Penggila Seks Saat Diranjang

Diposting pada
Domino QQ, Domino 99, BandarQ Online, Capsa Susun, QQ Online Domino QQ, Domino 99, BandarQ Online, Capsa Susun, QQ Online Jual Penirum Asli

"Jika Gambar Tidak Tampil Silahkan Gunakan VPN untuk menampilkan gambar yang terblokir operator"

Cerita Dewasa Liarnya Si Penggila Seks Saat Diranjang | “Honey…”, melihat kondisi anak gadis ku yang ternyata baik-baik saja membuat hatiku lebih nyaman.
“Ma… Honey kangen…”, dia lalu memelukku dengan erat. Air mata kami tumpah, rasa haru pun menyelumuti kami.
Cerita Dewasa Liarnya Si Penggila Seks Saat Diranjang Cerita Dewasa Liarnya Si Penggila Seks Saat Diranjang Cerita Dewasa Liarnya Si Penggila Seks Saat Diranjang images
Sesaat aku dan Honey berbagi cerita tanpa menghiraukan teman-temannya yang lain. Walaupun ia telah terjerumus di dunia terlarang, tapi aku masih sedikit tenang, setidaknya bukan tempat prostitusi yang lebih bobrok.

Cerita Dewasa Liarnya Si Penggila Seks Saat Diranjang | Honey memilih di sini, aku yakin dia punya alasan tertentu, mungkin karena orang-orang di sini masih muda. Honey lebih akrab dengan mereka yang umurnya tidak begitu selisih jauh, apalagi di sini bebas dari Narkoba, walaupun sebelumnya Joni dan Iwan pernah berkeja menjadi kurirnya.
Klik Disini  Cerita Dewasa Liarnya Si Penggila Seks Saat Diranjang Cerita Dewasa Liarnya Si Penggila Seks Saat Diranjang 5f78d9761659152c935f1667fa7925b6 Klik Disini  Cerita Dewasa Liarnya Si Penggila Seks Saat Diranjang Cerita Dewasa Liarnya Si Penggila Seks Saat Diranjang fa03369cb4681f1a5d342fb58ba45df9 Cerita Dewasa Liarnya Si Penggila Seks Saat Diranjang Cerita Dewasa Liarnya Si Penggila Seks Saat Diranjang WIGOBET 728x90

“Yeni…”, aku memperkenalkan diri kepada orang-orang di sini. Sebentar saja aku sudah akrab dengan mereka. Juragan di sini adalah Toni, dia lah yang mengucurkan uang untuk membebaskabku dari jeratan bang Johan, Joni dan Iwan yang tadinya menjemputku. Selain itu ada teman-teman Toni yang lain; Tono, Andi, Iskandar, Marwan, Budi, dan Eko. Serta tiga gadis pemijit selain Honey; Ayu, Lisa dan Widya.

Mereka semua baik sekali dengan Honey, sampai-sampai nanti malam mau mengadakan pesta untuk merayakan kebebasanku. Sebagai tanda terima kasih, aku pun berjanji akan memasak makanan untuk pesta nanti malam.

“Okey, tante tinggal di sini saja, lumayan buat bantu siapkan makanan untuk kita..”, ajak Toni agar aku bergabung dengan usahanya. “Kasihan si Honey tinggal sendirian…”, lanjut Toni. Aku pun mengiyakan karena aku sendiri juga tak tahu harus tinggal di mana lagi. Di gedung ini hanya Honey dan Bambang saja yang tinggal, sedangkan yang lain kalau sudah malam pulang ke rumah masing-masing, kadang-kadang saja ada yang menginap di sini.

Aku pun mulai keluar berbelanja bahan untuk masakan, Toni meminta Bambang menemaniku, namun sepertinya dia kecapekan karena tadi telah menjemputku, mau tidak mau Tono lah yang ditunjuk selanjutnya. Wajahnya sedikit menakutkan, tampak seperti seorang penggila sex yang berlebihan, menatapku saja seperti menatap mangsa. Tapi tidak apalah, sudah tidak heran kok diperlakukan seperti ini. Tubuhku yang putih mulus memang sering mengundang nafsu para lelaki haus sex, apalagi aku adalah keturunan china, walaupun umurku sudah 34 tahun, namun aku masih terlihat seksi.

Dalam perjalanan aku banyak ngobrol dengan Tono, aku duduk di sebelahnya yang sedang nyetir. Sesekali ia mengelus pahaku yang kebetulan aku menggunakan rok, sehingga gampang sekali disibak. Ternyata Tono adalah sahabat Toni sedari kecil, mereka sudah seperti kakak adik dan saling membantu. Orang tua Tono pun bekerja pada orang tua Toni. Karena elusan lembutnya di pahaku membuatku mulai terangsang, tidak ingin mengecewakannya, aku pun membalas mengelus pahanya. Tono tersenyum girang, ku buca kancing celananya lalu ku keluarkan senjata lelakinya yang sudah tegang. Selama perjalanan aku mengocok senjata lelakinya dengan jariku, dari sejak pergi sampai pulang. “Malam nanti bisa temani Tono?”, tanya Tono sebelum aku turun dari mobil. Aku hanya tersenyum dan mengangguk pelan.

Tidak terasa waktu cepat berlalu, mungkin karena aku terlalu berfokus pada masakanku, jam sudah menunjukkan pukul 10, hanya Honey yang membantuku di dapur, sedangkan yang lain ada di ruang tengah kumpul sambil nyanyi-nyanyi. “Honey … kita bawa makanan ini ke ruang tengah yuk”, aku mengajak Honey anakku untuk membantuku membawa masakan. Cukup kaget ketika aku membuka pintu ruangan tengah. Ternyata semua sudah bugil sambil berkaraoke. Hmm, anak muda jaman sekarang terlalu bebas pikirku.

Namun lebih kagetnya lagi ku lihat Honey juga membuka pakaiannya setelah meletakkan masakan di atas meja. Sebenarnya aku tidak lah awam dengan ini, namun tidak tega saja melihat anakku sendiri yang berbuat demikian. Aku pun meletakkan masakan yang aku pegang di atas meja.

“Kai…Ayo gabung…”, aku ditarik Tono yang lalu memaksaku melepaskan pakaianku. Tanpa perlawanan, aku mengikuti acara mereka, menari bugil. Para lelaki berkaraoke dan dikaraoke, Honey melayani Juragan Toni, aku melihatnya dengab jelas, Honey mengemut senjata lelaki Toni dengan nafsu. Sedangkan Ayu melayani Bambang dan Andi, Widya melayani dua sekawan alias Joni dan Iwan, sedangkan Lisa mengemut punya Iskandar dan Marwan. Yang tidak dapat jatah masih asyik menikmati bir sambil merokok. Aku selanjutnya ditarik Tono,

“Emutin dong tante…”, pintanya.
“Awas, Penggila sex tuh…”, ejek Eko dan Budi yang sedang minun-minum.

Kumainkan senjata lelakinya yang mengeras itu, penuh nafsu Tono mencengkram erat rambutku agar aku terus mengemut senjata lelakinya. Sebentar-bentar ia juga menampar pipiku, sungguh benar Tono adalah seorang yang gila sex. Sesekali ia juga menjulurkan tangannya ke bawah untuk meremas susuku.

“Tante masih cantik…”, ia coba merayuku agar aku semakin terangsang.

Ku pandangi yang lain juga masih asyik mengemut, seperti lomba saja, lima perempuan sedang melayani beberapa pria secara bersama-sama.

“Tante… Boleh gak Tono request?…”, tanya Tono. Aku pun selanjutnya menghentikan emutanku untuk mendengar apa permintaannya.

“Pengen model bondage…”, lanjutnya sambil tersenyum. Aku tidak menjawabnya, melainkan meneruskan emutanku. Senjata lelakinya terasa hangat dimulutku, ku kulum dan ku jilat. Tono hanya diam, ia tidak kembali menanyakan jawabanku, sungguh pria yang gila sex.

Kulihat Eko dan Budi tidak lagi minum, mereka sudah bergabung dengan yang lainnya. Hanya Toni yang berdua dengan Honey, tidak ada yang berani rebutan dengannya karena dialah Juragan di sini. Honey tidak lagi mengemut, tetapi telah berjongkok di atasnya, percintaan gaya woman on top, Honey terlihat sangat menikmatinya dengan terus memaju mundurkan pinggulnya untuk mengocok senjata lelaki Toni.

Di arah lain, Ayu sedang didoggie oleh Bambang. Andi tidak diam saja, ia masih membiarkan senjata lelakinya diemut oleh Ayu. Depan belakang diberi senjata lelaki, terlihat Ayu juga sudah cukup ahli. Budi yang tadi minum bergabung dengan Marwan dan Iskandar untuk menikmatiLisa, ada yang mengentotnya, ada yang diemutnya, dan ada yang menyedoti susunya. Sama halnya keadaan Widya, ia juga melayani tiga pria sekaligus, Joni, Iwan dan Eko. Semua mendapat jatah bergiliran, dari melumat bibirnya, menyedoti susunya, menusukkan senjata lelaki ke Empik nya, dan adegan-adegan lain yang bergaya threesome.

Emutanku mungkin sudah membuat Tono sedikit Bosan sehingga ia langsung mendorongku jatuh, dan lalu ia melumat toket ku dengan beringas. Tubuhku ditindihnya hingga aku sulit bernafas. Dari bibir hingga ke dada, ia menciumin seluruh tubuhku. Sambil menyedot toketku, Tono memainkan jarinya di arah empikku. Mungkin ia sedikit marah karena aku tidak menjawab kemauannya untuk menggunakan gaya bondage.

Pentil toketku terasa perih, Tono seperti tanpa perasaan menyedot dan menggigitnya dengan kesetanan. Empikku pun terus dikocok dengan jarinya secara paksa. Aku hanya bisa bertahan mengikuti kemauannya. Sial pikirku kalau ketemu pria haus seperti ini. Dulu di markas bang Johan juga sering ketemu yang seperti ini, namun tidak begitu beringas. Tono lebih beringas dari pada pelanggan dulu, toket dan pantatku pun ditampar hingga kemerahan. Tak mau berlama-lama, Tono pun bangkit mengambil tas nya dan mengeluarkan seutas tali. “Maaf tante…”, ia tersenyum padaku. Aku hanya berbaring lemas di lantai.

Selanjutnya Tono mengikat tanganku kebelakang sambil berbisik, “Tante pura-pura marah saja…”. Gila, pikirku, nih anak sudah keracunan video porno kayaknya. Agar ia puas, aku pun pura-pura berontak, aku menendangkan kakiku agar Tono menjauh. ‘Cetarrr…..”, Tono menampar pipi ku dengan keras hingga aku pun meneteskan air mataku. Seluruh tubuhku diikat dengan tali hingga aku tidak bisa bergerak, hanya kakiku saja yang dibiarkan mengangkang. Bukan hanya itu, Tono pun memplester mulutku dan selanjutnya ia pun mengeluarkan sex toys dari tasnya, sebuah benda panjang yang berbentuk senjata lelaki besar.

Aku melihatnya menekan tombol yang ada di gagangnya, selanjutnya senjata lelaki itu bergerak dan berputar seperti bor dan menggeliat seperti ulat. Benda itu terbuat seperti dari bahan karet, Tono pun selanjutnya berusaha menusukkannya ke lubang empikku. “Hmmmmm….”, aku tidak bisa bersuara, mulutku tertutup plester, benda besar itu terasa tidak muat di empikku. Nyeri sekali hingga aku kembali menangis. Benda itu terus mengobok-ngobok dalam empikku, berputar-putar seperti bergejolak. Tono tak mau menariknya untuk waktu yang cukup lama, sambil menusukkan benda itu, ia terus menyedot toketku.

Aku tidak jelas memandang sekitar, mataku penuh dengan air. Kurasa yang lain masih asyik bercinta. Mungkin saja mereka sudah berganti posisi atau bahkan sudah berganti pasangan. Hanya aku saja yang diperlakukan begini. Pentil toket ku ditarik Tono hingga mancung ke depan. Aku juga merasakan telah mencapai mencapai puncak nikmat, air nikmatku sudah muncrat keluar, membasahi sex toys dan tangan Tono, namun dia tetap saja tak mau menarik keluar sex toys nya itu. Capek sekali diperlalukan seperti ini, mungkin dinding empikku pun sudah koyak, karena benda yang besar itu tanpa henti berputar, terasa nyeri sekali.

Puas menyodokkan senjata lelaki mainan itu, Tono akhirnya menarik keluar dari dalam empikku. Sedikit tenang karena tidak dipaksa seperti tadi lagi, karena sekarang ku lihat Tono akan memasukkan senjata lelakinya yang tidak begitu besar ke dalam empikku. Untuk mendapatkan sensasi, Tono menampar pipiku dan menjambak rambutku hingga aku hanya bisa merintih tanpa bisa berteriak karena mulutku masih tertutup plester.

Aku terus digenjot oleh Tono, badanku terasa nyeri karena ikatan tali di tubuhku sangat erat sekali, semoga saja ini cepat berlalu. Tiba-tiba ada seseorang mendekati kami, kucoba lihat dengan jelas, ternyata itu adalah Toni, ia langsung menarik plester yang menutupi mulutku dengan beringas,

“Mama Honey… Emutin dong…”, ia lalu mendekatkan senjata lelakinya ke mulutku. ‘Hoek’ mual sekali bagiku karena senjata lelakinya masih basah, karena barusan saja Toni menyetubuhi anakku Honey, sehingga bekas-bekas cairan air mani masih melekat di senjata lelakinya. Mau tak mau harus ku kulum senjata lelakinya itu. Badanku bergoncang kuat, atas bawah mendapatkan pekerjaannya masing-masing.

Yang lain entah bagaimana, baik Honey, Ayu, Lisa maupun Widya. Yang jelas, ini adalah pesta sex yang cukup mecapekkan. Ku lihat beberapa pria sudah istirahat, mereka duduk dipojokan sambil merokok. Gadis lain sudah terkapar tak bertenaga melayani beberapa pria, hanya aku yang masih bermain cinta.

“Juragan, Tono minta ijin semprot…”, pinta Tono yang sudah mau berejakulasi setelah setengah jam meenggenjot empikku. Toni mencabut senjata lelakinya dari mulutku, lalu Tono menggantikan posisinya, Tono mau aku mengulum senjata lelakinya hingga cairan air maninya muncrat dan memenuhi mulutku.

Mulutku sudah belepotan dengan sisa air mani Tono yang sebagian sudah tertelan, Tono pun menjauh dan berkumpul dengan yang lain untuk menghabiskan bir dan masakan yang aku buat. Sekarang giliran Juragan Toni yang menggenjot empikku, dengan tubuh masih terikat, aku terus digoyang. Tak berhenti, kini Bambang datang bersama Andi untuk bergantian memintaku sepong. Kelihatannya mereka sudah Bosan dengan Honey, Ayu, Widya dan Lisa. Dengan keadaan terkapar terikat, tubuhku bergoyang mengikuti irama sodokan Toni, dan mulutku terus disumpal senjata lelakinya Bambang dan Andi.

Tak lama dari itu, kulihat pria yang tadinya beistirahat sudah mulai segar kembali dan antri dibelakang Bambang dan Andi. Mereka mengerumuniku, menjamahku, dan meremas-remas payudaraku. Hanya Tono yang masih beristirahat sambil merokok, tapi senjata lelakinya tidak istirahat, ia masih meminta Widya untuk memainkan senjata lelakinya. Sedangkan Ayu, Honey dan Lisa menyantap makanan dan minuman yang tersisa. Seperti halnya Tono, Toni pun menarik senjata lelakinya dari empikku dan berejakulasi di mulutku. Kini giliran Bambang yang mengambil posisi Toni.

Aku sudah capek, empikku pun sudah perih terasa. Tapi mereka seolah tidak mengerti, mungkin karena aku barang baru bagi mereka. Aku sudah tak mampu melihat sekitar, hanya merasakan sodokan para lelaki itu, dan muntah-muntah karena menelan air mani mereka. Setelah Bambang, giliran Andi, seterusnya entah siapa lagi, aku sudah tak sadarkan diri karena kecapekan, yang jelas semuanya mendapatkan giliran.

Ketika aku terbangun, ternyata pesta mereka belum usai, Honey dikerumuni Iwan, Andi, dan Tono, sedangkan Ayu mengemut Bambang sambil didoggie oleh Joni, gadis lainnya si Widya dan Lisa sedang dinikmati pria lainnya, hanya Juragan Toni yang tidak kelihatan. Mungkin mereka selalu beristirahat sejenak sehingga stamina mereka begitu kuat dari malam hingga subuh.

Aku tidak mau memperdulikan mereka lagi, dan berpura-pura tertidur agar tidak perlu capek lagi melayani mereka. Akhirnya siang, aku dibangunkan Honey dan melepaskan ikatanku, aku pun segera bangkit untuk mandi. Mereka ternyata sudah mandi terlebih dahulu, hanya beberapa orang saja yang masih tiduran di lantai.

“Habis mandi, siapin makanan ya ma… Juragan Toni pergi jemput kolega…”, pesan Honey sebelum aku masuk ke kamar mandi.

“Hadehhh… Capeknya…”, desahku di dalam kamar mandi sambil diguyur air dingin dari shower, cukup segar merasakan air yang membasahi tubuhku. Setelah ini aku harus memasak, tidak tahu siapa yang dijemput oleh Toni. Jam sudah menunjukkan pukul 15:00, Toni yang ditemani Bambang belum kunjung pulang. Aku dan teman yang lain cukup khawatir, takut makanan yang ku siapkan tidak segar lagi. Tono dan beberapa pria berjaga dibawah, sedangkan para gadis masih santai bersamaku di ruang kumpul, karena tempat usaha kami terhitung baru, masih jarang konsumen yang singgah ke sini.

“Honey, nanti makanannya diangetin saja ya, mama capek banget nih”, aku meminta Honey untuk membantuku. “Oke ma, mama istirahat saja…”, jawab Honey.

Aku pun masuk kamar dan langsung menghempaskan tubuhku ke ranjang. Capeknya hari ini, aku pasti akan nyenyak tidur di sore ini. Bagaimanapun pesta tadi malam sangat membekas dipikiranku, karena aku belum pernah mengalami pesta sex ramai-ramai begitu, apalagi bersama dengan Honey anakku yang juga ikut berpesta.

Tags:cerita bokep, cerita dewasa, cerita hot, cerita janda, cerita janda binal, cerita janda kesepian, cerita mesum, cerita ngentot, cerita panas, cerita perselingkuhan, cerita sange, Cerita seks, cerita selingkuh, cerita sex, cerita sex 2016, cerita sex bergambar, cerita sex janda, cerita sex selingkuh, cerita sex tante, cerita sex terbaru, cerita tante, cerita tante girang, cerita tante kesepian

Incoming search terms:

  • photo dan cerita sex terbaru 2016
  • cerita sek belajar sek dengan tante
  • cerita memek di koboj sebelum di entot
  • cerita ngentot para wanita cantik saatdiranjang
  • cerita sex liarnya kakak dan mama saat diranjang
  • liarnya wanita diranjang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *